Pemikiran
Belajar Ekonomi Dari Padepokan
Tingkat suku bunga Indonesia paling tinggi se-ASEAN, bahkan diantara sekawanan perekonomian kelas berat yang termasuk dalam kelompok negara G20. Dalam ilmu ekonomi, tingkat suku bunga yang cenderung tinggi menandakan perekonomian terjangkit –paling tidak- tiga kondisi khusus.
Pertama, dominannya sektor moneter ketimbang sektor riil. Kedua, tingginya sanksi stakeholder keuangan dan para pelaku bisnis terhadap fluktuasi nilai tukar mata uang dan sepaket dengan tingkat inflasi. Ketiga, masih rendahnya geliat sektor riil yang mampu menciptakan arus barang dan uang dengan cepat, dan tentu dengan nilai tambah yang gigantis.
Seperti kita tahu, tingkat bunga kredit berkisar 13 persen. Angka ini jauh melampaui rata-rata tingkat bunga kredit ASEAN sebesar 6,5 persen. Besarnya biaya kredit ini dianggap mencekik bagi para pengusaha muda. Sementara para pengusaha kelas kakap sangat berminat dengan kredit dari bank-bank di Indonesia.
Sekarang kita lihat besaran tingkat bunga deposito bank-bank di Indonesia per September lalu sebesar 6,5 persen. Meskipun tingkat bunga deposito ini merupakan angka yang paling besar di antara negara-negara ASEAN bahkan dunia, tetapi yang tergiur menyimpan uang di Indonesia hanya masyarakat umum level middle class income. Sementara itu bagi konglomerat, menyimpan uang di bank-bank Indonesia tidak cukup menggiurkan.
Indikator perbedaan persepsi terhadap instrumen keuangan ini dibuktikan dengan besarnya setoran tax amnesty dari uang yang diparkir di luar negeri. Memang pelaksanaan tax amnesty kemarin, agak sedikit ambigu dengan diterapkan pada objek pajak yang berada di Tanah Air. Tapi inilah kenyataan kompleksnya Indonesia sebagai tempat parkir uang yang menggiurkan.
Nun dibalik ruang terang tax amnesty, ada banyak uang yang parkir di berbagai padepokan ilmu gelap. Dari mulai AA Gatot Brajamusti, Dimas Kangjeng Taat Pribadi, Padepokan Satria Aji, hingga cikal bakal ilmu hitam yang dianut seorang Ibu di Cengkareng yang sampai tega memutilasi anaknya.
Cerita itu mengungkapkan bahwa sejatinya ekonomi bercerita tentang menggandakan uang. Pemerintah menggandakan kas negara dengan tax amnesty, konglomerat menggandakan kekayaan dengan memarkir di luar negeri, middle class income lokal melalui instrumen bank domestik konvensional, sedangkan arus bawah melalui ilmu hitam.
Mana yang akan kita pilih? Ilmu ekonomi mengatakan bahwa homo economicus harus mampu membangun pilihan rasional dalam berekonomi.
Bagaimana teori ini bekerja dalam kehidupan sehari-hari?
Berbagai kebutuhan hidup ditakar dengan kemampuan daya beli (purchasing power). Daya beli direfleksikan dengan tingkat pendapatan. Jika kemampuan daya beli ingin meningkat, dari sebagian pendapatan harus dialokasikan untuk investasi.
Di pangkal investasi inilah mulai berkembang berbagai instrumen, dari mulai deposito, emas, saham, obligasi, hingga investasi riil. Di akar rumput, investasi riil kini lebih ngetrend sebagai buka usaha, sehingga si empunya usaha termasuk dalam kategori enterpreneur. Bisa jadi termasuk di dalamnya penyimpangan enterpreneur menjadi enterpreneur ilmu hitam.
Ada keinginan alamiah yang dimiliki setiap orang untuk mencapai taraf kehidupan tertentu, seperti diutarakan oleh Bapak Ekonomi Adam Smith (1759) dalam karyanya The Theory of Moral Sentiments. Dalam pemenuhannya, kebutuhan harus dapat diterima oleh orang lain.
Moral dalam berekonomi itu dalam praktik keseharian dapat kita tangkap ketika membaca buku tentang kisah sukses milyuner. Ada penerimaan yang baik dengan cara seorang sukses yang meraih penghidupannya dengan berbagai cerita cara meraihnya, usaha yang ditekuninya, dan seberapa tinggi kesungguhannya untuk hidup lebih baik.
Berinvestasi melalui klenik penggandaan uang ditengah instrumen investasi yang kurang menjanjikan, memang terasa sangat menggiurkan. Alih-alih banyak yang jadi kaya, di hadapan hukum praktik tersebut tidak dapat diterima.
Jadi, bersabarlah dalam mengejar kemakmuran. Dalam ekonomi ada situasi untung dan ada situasi rugi. Dalam bahasa agama, istilah ini disebutkan sebagai pintu rezeki yang terbuka, tapi kadang Tuhan memberikan ujian dengan menutupnya. Bintang seseorang kadang terang dan kadang juga bintangnya tidak kelihatan.
Banyak orang lupa hukum alamiah ekonomi yang satu ini. Namun, Adam Smith pernah memberikan rumus jitu agar sejahtera sepanjang masa, formula itu adalah mengendalikan keinginan dengan kebutuhan.
