Connect with us

Ahriesonta.id

Kekuasaan Mukidi Pun Berlalu

Ilustrasi hegemoni wacana (istimewa/majalahdia.net).

Pemikiran

Kekuasaan Mukidi Pun Berlalu

Mukidi menghilang entah kemana. Rasanya baru kemarin ia menjadi buah bibir dalam cakap-cakap keseharian, entah di dunia nyata atau viral media sosial. Ia berlalu, dan kita juga sudah tidak lagi tertarik memperhatikan hal baru dari tokoh fiktif tersebut.

Di situ ada refleksi Foucault, terutama tentang hubungan kekuasaan dan pengetahuan. Ini memang contoh kecil. Kekuasaan “mukidi” direproduksi sehingga menjadi suatu keumuman yang dapat diterima tanpa pikir panjang. Namun, realitas kekuasaan selalu bertemu dengan penolakan.

Kekuasaan “mukidi” dengan memasifikasi personifikasi dirinya melalui cerita-cerita tidak lagi dapat diterima nalar kita. Sementara itu, kita sendiri diingatkan akan tanggung jawab etis baru pikiran. Pengetahuan apa yang lebih bermanfaat dari sekedar kisah Mukidi.

Di alam demokratis rasanya tepat menjabarkan kekuasaan melalui rezim pengetahuan Foucault. Sosiolog dan pemikir Perancis ini menjelaskan bahwa kekuasaan tidak lagi diraup dengan cara eksploitasi dan dominasi. Cara lain itu melalui pengetahuan, yang didalamnya terkandung diskursus atau wacana.

Foucault mengartikan diskursus sebagai wilayah umum semua pernyataan. Yakni, semua ucapan atau teks yang memiliki makna dan pengaruh sencara nyata. Definisi terkait dengan itu adalah sejumlah statement yang dapat diindividualisasikan.

Hal yang diakibatkan suatu diskursus adalah subjection, yang berarti bentuk penyerahan seseorang pada orang lain sebagai individu. Ibarat pasien yang menyerahkan dirinya pada seorang dokter.
Sang pasien sadar bahwa ia sakit, dan hanya dokter yang bisa menangani penyakitnya. Dalam taraf kekuasaan tersebut sempurna, pengaruh suatu diskursus memperlihatkan bahwa aktualitas kekuasaan semakin tidak diperlukan lagi, tetapi efeknya dapat dirasakan.

Penerimaan obyek kekuasaan (dalam hal ini masyarakat) memang menjadi sumber potensial bagi lahirnya suatu dominasi, sehingga suatu kekuasaan dapat dilaksanakan. Relasi kuasa dan pengetahuan inilah yang secara keseharian kita terima, bahwa ia telah usang. Lalu, kita menyambut yang baru. Kelak, yang baru pun akan berlalu. Dan seterusnya selalu begitu.

Di dalam perubahan itu, setiap objek kekuasaan selalu hadir dengan nalar yang semakin baik. Masyarakat selalu lebih cerdas untuk mensikapi wacana yang berkembang. Meski belum tentu bagi yang baru lahir. Tugas kita untuk menjaga regenerasi wacana untuk generasi berikutnya. Pengetahuan tentang kekuasaan harus berjalan secara linear untuk masa depan yang lebih maju.
Ars 241016

Klik untuk komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × 5 =

Ke Atas