Pengabdian
Identitas berkah kebhinekaan
Setiap hari kita makan, kadang makan di Warung Tegal, Warung Sunda, dan sesekali di Warung Padang. Tak terhitung beli bubur kacang ijo dan ngopi di Warkop Kuningan atau di Starling Madura (starbuck keliling pakai sepeda). Tidak ada yang mempermasalahkan kecenderungan dalam memilih lauk jengkol, ikan teri, atau pepes ikan dan sebagainya.
Jangan ngelih dengan kudapan sedap di atas. Kita akan membahas premis identitas dan premis kecenderungan, yang belakangan banyak tersaji di media sosial menjelang Pilgub DKI Jakarta. Satu dari sekian banyak premis yang direpetisi netizen adalah identitas agama pemilih terhadap keyakinan kandidat.
“SAYA MUSLIM, SAYA TIDAK PILIH AHOK”. Begitulah pangkal premis yang mengemuka, yang kemudian diiringi premis tandingannya “SAYA MUSLIM, SAYA PILIH AHOK”.
Kalau boleh jujur, premis-premis itu adalah bentuk dari social influence yang didengungkan oleh para tim kampanye. Hal yang tidak dapat dipungkiri adalah tidak ada satu orang pun yang kebal terhadap pengaruh orang lain, terlebih pengaruh dari suatu kelompok.
Yang benar dari situasi ini adalah, setiap orang menjadikan orang disekitar kita sebagai referensi. Maka, pertemuan perbedaan di media sosial membuat premis identitas dan premis kecenderungan mendapat perhatian yang sangat besar dan berulang menjadi perbincangan.
Politik sebagai instrumen meraih kekuasaan selalu lekat dengan meraih dukungan. Politisi kerap mendulang dukungan melalui identitas. Tidak jarang identitas pun dikoyak demi membangun kecenderungan dari identity avoidance. Mari tengok Adams dan Gullota (1983) mendefinisikan identitas.
Identitas adalah fenomena psikologi yang kompleks dalam kepribadian setiap individu. Identitas mulai terbesit melalui penafsiran individual saat usia remaja terhadap individu lain yang dianggap penting dalam hidup kita. Dalam hal ini, mencakup kecenderungan, komitmen, dan kepercayaan terhadap pribadi yang ideal (menurut penafsiran). Pengertian identitas terintegrasi dengan identifikasi seksual, ideologi individual, bahkan penerimaan norma dan standar nilai/sosial kelompok masyarakat, dan sebagainya.
Situasi ini membawa kita pada lagu lama, sudah seberapa dewasa kah kita berpolitik dalam demokrasi?
Tahun 1979, Tajfel dan Turner dalam tulisannya An Integrative Theory of Intergroup Conflict menyebutkan bahwa banyak pekerjaan yang berkenaan dengan psikologi sosial yang menyangkut hubungan antar kelompok terfokus pada pola prasangka individu dan diskriminasi, serta interaksi antar orang dengan motivasi yang dimilikinya.
Situasi yang tercipta dari pendekatan identitas yang ditempuh para politisi mencerminkan kontestasi kepentingan yang sangat ketat. Alangkah arifnya jika para politisi menekan hasrat memenangkan kontestasi dengan tidak menempuh jalan yang mengganggu bagi kebhinekaan.
Bagi kita sebagai masyarakat, memilih sejatinya menentukan harapan yang harus terpenuhi rasa keterwakilannya. Tidak perlu frustasi dengan identitas yang dikoyak oleh upaya-upaya dalam Pemilu. Sudah saatnya kita semakin dewasa, meninggalkan krisis identitas dengan mengandalkan referensi konflik di sekitar kita.
Kita harus berpegang pada nilai (values) dan perubahan yang harus terus berjalan. Tentu, harus kita rasakan senikmat mengenyam kudapan beraneka rasa sebagai berkah kebhinekaan.
