Penghayatan
Genchi Genbutsu
Waktu terang bulan, ku pergi berlayar, pergi menuju Pulau Seribu. …… Ayo! Kawan semua pergi ke sana, Pulau Seribu memikat hati. Sungguh indah…..
Penggalan lagu lawas Tetty Kadi yang hits diera 1967, pada masanya berhasil memperkenalkan kawasan bahari di utara Jakarta sebagai tujuan wisata terkemuka. Hingga saat ini, data pemerintah provinsi DKI Jakarta menunjukkan, Kepulauan Seribu dikunjungi tidak kurang dari 37.000 wisatawan setiap pekannya.
Baru-baru ini juga seorang Norwegia membawakan lagu dengan tema Nasi Padang. Satu hari diunggah di Youtube, video lagu yang diciptakan Audun dengan bandnya Kvitland telah ditonton oleh 166.567 pengunjung.
Kita kadang takjub dampak suatu informasi yang berkembang. Apalagi muatan informasi dibawakan dalam sebuah lagu. Irama dan instrumentasi yang mengiringi lantunan tembang bisa memudahkan siapa saja mengingat informasi. Apalagi dengan adanya kecanggihan teknologi komunikasi, informasi bergulir tidak perlu menunggu dibuatkan lagu untuk mudah diingat. Kini hampir setiap hari orang mengkonsumsi viral berbagai informasi melalui media online dan media sosial.
Ini yang dirasakan Toni Ruttimann, seorang warga negara Swiss yang tergelitik dengan viral foto anak sekolah dasar Indonesia bergelantungan di jembatan rusak.
Seperti wisatawan yang berkunjung ke Kepulauan Seribu dan Audun yang mencicipi Nasi Padang di tanah Minang, Toni juga akhirnya datang ke Indonesia. Melihat seberapa nyata anak daerah Indonesia berangkat sekolah dengan susah payah.
Konon, sudah hampir enam tahun ia mengunjungi daerah-daerah Indonesia untuk menemukan fakta kurang mengenakkan ini. Hingga akhirnya ia turut membantu perbaikan jembatan-jembatan rusak di daerah bersama warga setempat.
Begitulah fakta menjadi informasi. Tetapi agar informasi bisa menjadi suatu tindakan, seseorang harus melihat langsung fakta dari informasi. Bila dibuatkan notasi, kira-kira seperti ini:
F (fakta) ≠ I (informasi)
Maka, T (tindakan) = I + F
Fakta belum tentu seperti informasi. Tetapi dengan melihat langsung, kita akan menentukan tindakan yang paling sesuai untuk dilakukan. Ini yang kadang luput dari kemewahan kita sekarang mendapatkan informasi yang sangat masif melalui media online.
Kita seakan tahu apa yang terjadi di luar jendela rumah. Tetapi nyataannya, kita hanya sekedar tahu. Kita tahu Indonesia indah, tetapi hanya tahu dari foto-foto instagram. Kita tahu enaknya masakan lengko, tapi tiap pagi malas pergi ke pasar. Kita merasa prihatin dengan bencana, tetapi kita tidak mampu berempati dengan membantu mereka yang menjadi korban bencana.
Begitulah informasi bisa hanya menjadi sebatas informasi, jika kita tidak melakukan apapun. Bayangkan jika kemalasan melihat langsung fakta lapangan ini dialami oleh kita sebagai pemimpin. Paling fatal, kebijakan bisa meleset.
Find what is really going on.. Go and see..begitu kata Jeffrey Liker dalam buku The Toyota Way. Dalam bahasa Jepangnya berarti genchi genbutsu artinya selalu mendatangi langsung sumbernya. Itu adalah salah satu parameter yang ada dalam prinsip no.13 untuk mampu melaksanakan keputusan secara cepat.
Singkatnya kita dituntut selalu melihat fakta yang terjadi, sehingga bisa mengambil keputusan yang tepat. Dalam bahasa Presiden Jokowi berarti blusukan. Ini menjadi cara ampuh untuk menangkal bawahan yang asal bapak senang (ABS).
Dalam buku yang terbit di tahun 2001 tersebut, Jeffrey menjelaskan bahwa dengan memulai genchi genbutshu, kita akan mampu menentukan penyebab yang mendasari, lalu kemudian mempertimbangkan berbagai alternatif dan mencari jalan keluarnya. Pada tataran implementasi, gunakan cara komunikasi yang efisien supaya tindakan dapat bergulir kembali menjadi informasi yang baik.
Karena itulah 82 jembatan terbangun dengan bantuan tangan Toni Ruttimann. Dan, lezat serta indahnya yang ada di bumi Nusantara bisa dinikmati dunia. Sekarang, saatnya kita berkarya di dunia kita secara nyata.
Ars – 91016
