Connect with us

Ahriesonta.id

Mereka yang Tersesat di Jalan Benar

Ilustrasi terorisme (istimewa/okezone.com).

Pemikiran

Mereka yang Tersesat di Jalan Benar

Video seorang pelajar perempuan muslim di Inggris mendadak viral di jagad media sosial Indonesia. Gadis itu bernama Isra Mohammed. Dalam video itu ia memberikan paparan dihadapan 1.900 murid Kenton School di Newcastle.

Video itu sebenarnya viral di Inggris pada akhir 2015 silam. Kala itu dunia geger ‘Paris Attack’, sebuah tragedi bom bunuh diri di stadion sepak bola Stade de France di Saint-Denis. Kejadian itu disusul dengan penembakan brutal konser band metal di Bataclan Theater. Korban jiwa di Stade de France mencapai 130 orang. Adapun korban jiwa di Batclan Theater 89 orang. Sementara itu korban luka-luka di dua tempat tersebut mencapai jumlah 413 orang.

Isra mengatakan bahwa setelah kejadian tersebut, adik-adiknya mendapat ejekan dan penghinaan verbal (bullying and harassment) di sekolah. Tatapan sinis juga mereka terima dari orang-orang di lingkungan tempat tinggalnya.

Itu bagian kecil Islamophobia. Ketika banyak orang menjadi phobia atau takut terhadap orang yang memeluk agama Islam. Di Amerika Serikat (AS), Islamophobia mencuat setelah tragedi 11 September 2001 atau dikenal dengan tragedi 9/11, ketika sekelompok orang Arab melakukan pembajakan pesawat komersil American Airlines, kemudian menabrakan pesawat tersebut ke menara World Trade Center (WTC).

Islamophobia di AS kala itu bahkan membatasi akses penduduk muslim AS untuk mendapatkan penghidupan secara layak. Orang dengan nama berbau bahasa Arab bahkan mendapat perlakuan ekstra ketat jika ingin memasuki wilayah AS.

Di podium Kenton School Newcastle, Isra menunjukkan bahwa persepsi negatif terhadap Islam telah mendunia. Ketik saja di mesin pencari Google kata kunci Islam, anda akan mudah mendapatkan keterkaitan Islam dengan terorisme.

Dan, itu adalah pemahaman yang keliru.

Sekelompok orang melakukan tindakan terorisme yang mengatasnamakan Islam justru merugikan umat Islam seluruh dunia. Bahkan, di Irak, Suriah, Afghanistan korban aksi terorisme kebanyakan beragama Islam.

“My message is that terrorism has no religion, Islam is not the face of terrorism and Muslims have nothing to do with terrorism,” kata Isra dengan lantang.

Ia hanya ingin menyampaikan pesan bahwa terorisme tidak beragama, Islam bukanlah wajah dari terorisme dan setiap muslim tidak akan melakukan aksi terorisme.

Pernyataan tegas Isra menginspirasi muslim Indonesia, ketika beberapa waktu lalu kota-kota di Indonesia menjadi ladang aksi bom bunuh diri. Bahkan secara terang-terangan, tindakan kriminal terorisme di Indonesia menyerang aspek plural dan sistem keamanan, ya yang diserang adalah umat agama non muslim dan kepolisian.

Meski belum mencapai Islamophobia, tapi rasa marah pada situasi mencuat perlahan. Umat Islam di Indonesia menjadi pihak yang menjadi sasaran rasa marah itu. Kebencian menjadi artefak di jagad media sosial. Meski, dalam kehidupan riil sehari-hari tak ditemui gesekan sosial keagamaan.

Umat Islam di Indonesia dirundung duka dua kali sebetulnya, selain menjadi alamat kemarahan, juga tak sedikit korban muslim akibat aksi bom bunuh diri dan penyerangan oleh kelompok terorisme.

Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Rospuji Siswanto adalah korban yang hingga menghembuskan nafas terakhirnya di tangan kelompok terorisme. Ia Muslim, bahkan seorang guru ngaji anak-anak remaja di lingkungan tempat tinggalnya. Ipda Auzar, anggota Ditlantas Polda Riau juga gugur dalam penyerangan teroris ke Mapolda Riau. Sama seperti Iptu Luar Biasa Yudi, Ipda Auzar juga imam mesjid dan guru ngaji di lingkungan rumahnya.

Ini jelas, bahwa terorisme tidak beragama, Islam bukanlah wajah dari terorisme dan setiap muslim tidak akan melakukan aksi terorisme.

Klik untuk komentar

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 − four =

Populer

Ke Atas